Analisa ini menelusuri 345 baris mutasi penjualan pada kartu stok (rekonsiliasi harga rata‑rata) periode 1–30 Juni 2026, disilangkan dengan daftar faktur untuk melihat kontribusi per produk, brand, dan cabang.
Garis HPP% harian melompat di beberapa titik — tanda bahwa angka 71% adalah rata-rata yang dibentuk oleh beberapa hari dengan transaksi besar bermargin tipis, bukan pola harian yang stabil.
Membagi produk menjadi tiga kelompok: Brand Lokal (Ruwa Jurai, Tapis, Siger, Wawai), Karpet Impor/Premium (Al Saray, Royal Padisah, Seven Mosque, Mirac, Shafira, Nabawi, dll), dan Non‑Karpet (parfum, sajadah, aksesoris).
Dibatasi pada produk dengan omzet > Rp5 juta di bulan berjalan, agar tidak bias oleh transaksi kecil/tunggal.
Ini level per-transaksi, bukan agregat produk — menunjukkan persis tanggal, pelanggan, cabang, dan harga yang membuat margin tipis di masing-masing faktur.
HPP dihitung dengan menautkan nomor transaksi pada kartu stok ke tag cabang pada daftar faktur.
68% omzet berasal dari kategori dengan HPP 77,6%, jauh di atas brand lokal (54,6%).
3–5 transaksi tunggal >Rp85 juta terjual di margin 5–31%, jauh di bawah rata-rata bulanan.
SM Pusat menyumbang 46% omzet dengan HPP tertinggi di antara semua cabang (75,5%).
Ruwa Jurai, Tapis, Siger, dan Wawai punya margin 2× lebih sehat. Jadikan brand ini rekomendasi utama tim sales/CS untuk anggaran menengah, dan posisikan karpet impor sebagai pilihan premium eksplisit — bukan default.
Transaksi seperti Royal Padisah 256m (margin 5,3%) sebaiknya melalui persetujuan berjenjang bila margin di bawah ambang tertentu (mis. 20%), agar volume besar tidak otomatis berarti margin habis.
Kedua cabang ini punya HPP% terendah. Bandingkan bauran produk mereka dengan SM Pusat untuk menemukan praktik yang bisa direplikasi.
~Rp9,9 juta HPP bulan ini berasal dari parfum/sajadah yang diberikan gratis. Kecil, tapi pantau agar tidak menjadi kebiasaan tanpa batas nominal yang jelas.