PT SENTRA MASJID INDONESIA — LAPORAN INTERNAL

Kenapa HPP Juni tertahan di ~71% dari penjualan?

Analisa ini menelusuri 345 baris mutasi penjualan pada kartu stok (rekonsiliasi harga rata‑rata) periode 1–30 Juni 2026, disilangkan dengan daftar faktur untuk melihat kontribusi per produk, brand, dan cabang.

Total Penjualan
Total HPP
HPP terhadap Penjualan
rata-rata industri karpet lokal ~50–55%
Margin Kotor
01 · Tren Harian

HPP harian naik-turun tajam, bukan konstan di 71%

Garis HPP% harian melompat di beberapa titik — tanda bahwa angka 71% adalah rata-rata yang dibentuk oleh beberapa hari dengan transaksi besar bermargin tipis, bukan pola harian yang stabil.

Batang = nilai Penjualan & HPP (Rp, sumbu kiri) · Garis kuning = HPP% harian (sumbu kanan). Perhatikan lonjakan 19 Juni (90,1%) dan 21 Juni (83,0%) — akan dibedah di bagian kasus khusus.
Temuan kunci: Pada 19 Juni, satu transaksi Royal Padisah Merah Karpet 256 meter senilai Rp225 juta terjual di margin hanya 5,3% (harga jual Rp878.906/m vs HPP rata-rata Rp832.637/m). Transaksi tunggal ini menyumbang 85% dari total penjualan hari itu, dan seorang diri menyeret HPP harian ke 90%. Pola serupa terlihat di transaksi 238 m Al Saray (10 Juni, Rp214 juta) dan 96 m Seven Mosque (21 Juni, Rp86,4 juta) — ciri khas pesanan proyek/institusi volume besar yang dihargai mendekati harga pokok.
02 · Komposisi Brand & Kategori

Karpet impor/premium menyumbang 68% omzet — tapi HPP-nya 77,6%

Membagi produk menjadi tiga kelompok: Brand Lokal (Ruwa Jurai, Tapis, Siger, Wawai), Karpet Impor/Premium (Al Saray, Royal Padisah, Seven Mosque, Mirac, Shafira, Nabawi, dll), dan Non‑Karpet (parfum, sajadah, aksesoris).

Karpet Impor/Premium HPP 77,6%
68,3% dari total omzet. Harga beli barang dari supplier jauh lebih tinggi dibanding brand lokal, sehingga meski harga jual tinggi, ruang margin tetap tipis.
Brand Lokal (Ruwa Jurai, Tapis, Siger, Wawai) HPP 54,6%
Hanya 29,6% dari omzet, padahal marginnya jauh lebih sehat (~45%). Konsisten dengan temuan analisa margin sebelumnya.
Non-Karpet (parfum, sajadah, dll) HPP 83,9%
Porsi kecil (2%), tapi HPP tinggi — sebagian karena item diberikan gratis sebagai bonus pembelian (~Rp9,9 juta HPP tanpa pendapatan).
Implikasi bauran produk: Jika porsi omzet karpet lokal naik dari 29,6% ke 40% (menggeser dari impor/premium), dengan margin masing-masing kategori tetap sama, HPP keseluruhan bisa turun dari 70,9% menjadi sekitar 67–68% — setara tambahan margin kotor Rp35–40 juta di bulan yang sama.
03 · Produk Penyumbang HPP

Lima produk premium yang paling menekan margin

Dibatasi pada produk dengan omzet > Rp5 juta di bulan berjalan, agar tidak bias oleh transaksi kecil/tunggal.

HPP% Tertinggi — perlu perhatian
HPP% Terendah — margin paling sehat
15 Produk dengan Omzet Terbesar Juni 2026
03b · Rincian Transaksi

25 baris faktur dengan HPP% tertinggi (nilai jual ≥ Rp1 juta)

Ini level per-transaksi, bukan agregat produk — menunjukkan persis tanggal, pelanggan, cabang, dan harga yang membuat margin tipis di masing-masing faktur.

HPP Unit = harga rata-rata (average cost) barang saat faktur dibuat, dari kartu stok. Kolom Margin menunjukkan selisih Harga Jual terhadap HPP Unit per satuan.
04 · Perbandingan Cabang

SM Pusat: 46% omzet nasional, tapi HPP tertinggi (75,5%)

HPP dihitung dengan menautkan nomor transaksi pada kartu stok ke tag cabang pada daftar faktur.

SM Tangerang mencatat HPP terendah (53,0%) meski omzet paling kecil — kemungkinan komposisi produknya lebih condong ke brand lokal atau non-karpet. Pola ini layak ditelusuri lebih lanjut sebagai praktik baik yang bisa direplikasi ke cabang lain.
05 · Kesimpulan

Tiga penyebab utama HPP 70,9% di Juni 2026

01

Bauran produk condong ke karpet impor/premium

68% omzet berasal dari kategori dengan HPP 77,6%, jauh di atas brand lokal (54,6%).

02

Deal proyek/institusi bervolume besar dijual tipis margin

3–5 transaksi tunggal >Rp85 juta terjual di margin 5–31%, jauh di bawah rata-rata bulanan.

03

Konsentrasi cabang pusat pada produk mahal

SM Pusat menyumbang 46% omzet dengan HPP tertinggi di antara semua cabang (75,5%).